Satu Cerita Tentang Perpisahan
Diposting oleh Fairuz di 05.06 0 komentar
Masih ingat satu tahun yang lalu?
Dan aku terlalu takut bahkan hanya untuk membayangkan kemungkinan itu.
Diposting oleh Fairuz di 04.11 0 komentar
Our first stop motion video!
Diposting oleh Fairuz di 07.28 0 komentar
I'll keep this.
Diposting oleh Fairuz di 07.42 0 komentar
11 months ♥
Diposting oleh Fairuz di 05.44 0 komentar
Proyekan dengan Pacar :"3
![]() |
| My favorite part! |
![]() |
| Iseng take photo, setelah kerjaannya kelar :") |
![]() |
| Ini opening videonya. |
![]() |
| Seblak ala Aymen dan Palatita. |
| Aymen narsis sendiri :| |
| Origami burung bangau hasil bertiga :3 |
| Hasil Aymen dan Palatita. |
Diposting oleh Fairuz di 04.59 0 komentar
HAPPINESS.
Diposting oleh Fairuz di 07.25 0 komentar
Farewell.
Satu kalimat di layar BlackBerry-ku, pukul dua puluh tiga kurang lima belas menit.
Yang sukses membuatku shock.
Sebenarnya, ini-shock-karena-apa, aku tidak begitu paham.
Adalah chat dari seorang teman, yang mengatakan kalau dia dan Pacarnya baru saja berpisah.
Seharusnya reaksiku tidak seperti ini jika saja 1 minggu sebelum hari ini,
kita tidak membicarakan tentang betapa tidak maunya kita merasakan kehilangan(lagi).
Baru saja sekitar 1 minggu yang lalu,
kita terduduk di sebuah kedai, 3 jam membicarakan tentang perpisahan, kehilangan.
Dan betapa tidak inginnya kita kehilangan apa yang sedang masing-masing kita genggam saat ini.
Juga harapan-harapan muluk tentang masa depan.
Tapi ternyata, apa yang ditakutkan justru terjadi. Hari ini, detik ini.
"No. That's just... impossible."
"Oh yeah, it's over."
Satu, dua, tiga...
Perpisahan demi perpisahan terjadi.
Dari hubungan yang sudah terjalin selama 2 tahun lamanya, sampai pasangan yang baru saja memulai hubungan mereka.
Ah, entahlah...
rasanya menyesakkan.
Melihat kenyataan bahwa perpisahan itu ada, nyata, mungkin terjadi.
Bisa datang begitu saja tanpa aba-aba satu dua tiga,
tak ubahnya jatuh cinta.
Perpisahan itu nyata, senyata jatuh cinta.
Dapat terjadi begitu saja, secara tiba-tiba, seperti pertemuan.
Kita tidak akan pernah tahu ketika cinta mengendap-endap di belakang,
dan tiba-tiba menyergap hingga akhirnya kita jatuh.
Pun perpisahan,
bisa saja tiba-tiba dia datang dan menyerbu.
Tetapi senyata apapun perpisahan,
kuharap pada akhirnya kita berada di satu titik temu.
Bukan berpotongan, tak juga hanya bersinggungan, atau malah tak sejalan.
Jika ini adalah perjalanan,
semoga aku sedang menuju kamu selalu.
Diposting oleh Fairuz di 07.10 0 komentar
Sedikit Lupa
Aku tidak sedang menjalani hubungan yang tidak pernah tersandung batu.
Pun aku tidak pernah menjanjikan kamu itu.
Tanpa kita sadari, kita pernah saling menyakiti.
Suatu saat pun mungkin,
akan terjadi lagi.
Ketika aku mulai bertingkah begitu menyebalkan,
dan kamu terlalu lelah untuk memperhatikan.
Seiyanya,
kumohon tetaplah bertahan.
Jika terjadi lagi, lagi, dan lagi.
Mungkin saat itu kita hanya sedikit lupa,
pada ribuan langkah di setiap jalan yang telah kita lewati.
Pada ratusan gelak tawa dan isak tangis yang aku bagi, dengan kamu.
Dan pada setiap memori yang kita patri,
pada benak yang saling memenuhi.
Jika terjadi lagi, lagi, dan lagi.
Ingatkan aku tentang janji, yang pernah bersama kita maknai.
Ingatkan aku tentang hati, yang telah pernah kurengkuh penuh arti.
Ingatkan aku tentang seberapa banyak tawa yang dibagi,
bukan tentang sebanyak apa tangis yang terbuang.
Jika terjadi lagi, lagi, dan lagi.
Jika cinta kembali merubahku menjadi sosok yang egois,
ingatkan aku tentang kamu yang tak pernah mempunyai niat untuk membuatku menangis.
Karena cinta pernah menjadikan aku traumatis,
aku tidak mau kamu menjadi hal yang sama persis.
Aku pun ingin memberi rasa yang tanpa tendensi,
tak ubahnya pemberian matahari kepada bumi.
Maka jika terjadi lagi, lagi, dan lagi.
Jika kembali tanpa kita sadari, kita saling menyakiti,
ingatkan aku tentang sajak ini.
Dan bacalah lagi,
karena mungkin kita hanya sedikit lupa, bahwa kita adalah bersama.
Diposting oleh Fairuz di 06.26 0 komentar
Disini, aku tidak menunggu nanti.
Disini, aku tidak menunggu nanti.
Meski dengan ada ataupun tidak adanya jarak aku tetap tak akan beranjak,
detik ini, aku tak akan lagi menunggu nanti.
Satu malam minggu,
sebelum kamu kembali merentangkan peluk sepanjang 200 kilometer.
Hingga aku tak lagi tahu dimana ujung tanganmu bertumpu.
Disini, aku tidak lagi menunggu nanti.
Aku sedia tak beranjak, mengabaikan jarak.
Tak jemu, walau tidak bertemu.
Walau aku dan bahkan setiap centi rambutku ingin kamu pulang,
aku tetaplah seorang pemalas yang tak memiliki sedikitpun keinginan untuk melupakan aromamu.
Disini, aku tidak lagi menunggu nanti.
Kendati senja memuram,
karena mungkin semburat matahari berpindah ke mukaku.
Disini, aku tidak lagi menunggu nanti.
Meski menanti tidak pernah sederhana.
Pun setia, tidak semuanya bisa.
Tapi tanpa kau minta, aku ingin melakukannya.
Mengapa aku harus ingin pergi jika kau adalah tempat ternyaman?
Disini, aku tidak lagi menunggu nanti.
Tidak juga ingin bergegas,
karena tempat di sebelahmu tidak pernah membuatku merasa cemas.
Disini, aku berumah di hatimu.
Aku tidak menunggu nanti, karena di dalam sini, adalah ibu dari semua rasa bermuara.
Disini, aku tidak lagi menunggu nanti.
Karena kapan saja, pun setiap saat,
kamu selalu membuatku jatuh cinta.
Diposting oleh Fairuz di 03.18 0 komentar
Kerikil-kerikil Kecil (yang Membuat Kakiku Berdarah)
Karena aku mengenalmu lebih dari hitungan hari.
Ah, Sayang.
Aku tidak ingin menyerah pada rindu, dan membiarkan waktu menertawakanku.
erat, tapi tidak mencengkram.
Ringan, tapi tidak mungkin terlepas :)
Diposting oleh Fairuz di 05.46 0 komentar
Flashbacccck ♥
Hai, Blog! Mau cerita sedikit, waktu hari Sabtu 2 minggu ke belakang, waktu pelajaran Sejarah.. di sekolah kan materinya lagi bagian Pergerakan Nasional. Dan pas mau ngebahas soal ini, tiba-tiba aja Pak Dida, guru sejarah aku, cerita tentang bagaimana terjadinya pergerakan nasional itu pake dianalogikan dengan cerita tentang.... aku sama si Pacar, gitu loh :|
Jadi Pak Dida cerita gini awalnya, "Awalnya, seperti hubungan dua orang.. hubungan itu ada karena timbulnya rasa sayang, yang bisa saja muncul karena hobi yang sama. Contohnya, dalam bidang fotografi. Ada 2 orang yang suka fotografi, bisa tiba-tiba muncul perasaan..." disini, Pak Dida ngelirik ngeselin, tapi aku masih stay cool, gak ngeuh. "...ini cuma misalnya, ya! Cerita di bawah ini andaikata ada kesamaan nama, itu hanya karangan belaka! Jadi ceritanya, si perempuannya bernama Fairuz."
Dan Pak Dida nunjuk aku aja gitu loh, yang emang Pak Dida sering manggil aku Fairuz gara-gara itu nama di kostim basket aku x_x Aku langsung ngakak, Pak Dida malah ngatain gak boleh GR.
"...eh ini cuma misalnya! Jadi si Fairuz ini kan bareng di fotografi sama si laki-lakinya, sebut aja inisial I..." kata Pak Dida.
Dan tiba-tiba ada yang nyeletuk aja gitu, "Iman Pak!"
Glek.
Pak Dida ketawa-ketawa girang, "Jadi Fairuz sama I ini bareng-bareng di fotografi... sampai akhirnya timbul perasaan sayang..."
*accidentally keselek*
"Suka sepedahan juga, Pak!" Ini gak tau siapa yang nyeletuk. Ngomporin abis.
...dan akhirnya pelajaran Sejarah hari itu dipake buat mendzolimi si Fairuz. Asem, Pak Dida. Tapi emang konyol juga, ini kenapa guru-guru jadi ngeuh sama relationship aku sama si Pacar. Sering kalo papasan sama beberapa guru, dibilang, "Faradiman." Plus plus tukang jajan di food court se-mu-a-nya, kalo aku jajan ke belakang mesti aja nanyain tentang si Pacar. Ya sudah, di mata orang-orang, Faradita itu ya... Iman. Ah, semoga aja mereka semua nantinya jadi saksi gimana kita sama-sama iya :"]
Well, jadi pengen flashback juga. Iya sih, pertama ketemu sama si Pacar, ya selama aku masuk di Lensa Smandatas. Kalau kenal, dari pas sebelum masuk SMA juga udah kenal, tapi cuma sekedar pernah chat di Facebook doang. Dulu lucu gitu, masih inget aku pernah ngobrol aja sama dia waktu MOPD, waktu di podium pas kumpulan Lensa, SMS-SMS singkat, YM yang gak begitu penting tapi memorable, gak tau kenapa masih aku inget aja. Ya gitu lah, sampai akhirnya dulu banget, aku pernah punya feeling, "...kok kayaknya suatu saat aku bakalan ada 'something' sama orang ini, ya..." dan ternyata bener, dia jadi Pacar aku. Entah juga kenapa waktu itu pernah ada feeling kayak gitu.
Pertama kali ngobrol face-to-face pas MOPD, waktu pembagian kelas. Inget sebelumnya aku cerita di YM gitu, "Ini gugus MOPD gak nyaman orang-orangnya, ntar pembagian kelas diacak lagi gak sih a?" gak tau juga gimana awalnya bisa punya YM dia, bisa YMan juga, lupa :_))
Dan pas pembagian kelas.... TARAAA! Kebagian kelas bagus, sama temen-temen SMP. Abis itu papasan sama si Pacar, rada salting. Sampe dia nanya, "Gimana? Kelasnya bagus gak?"
Itu, kalimat, pertama. "Bagus a! Hehe."
Ah, lucu kalo diinget-inget :")
Grow old with me, Love. Will you? :")
Diposting oleh Fairuz di 03.59 0 komentar
Pipu :"3
Diposting oleh Fairuz di 04.03 0 komentar
My other half.
If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?
I'll never know what the future brings
But I know you're here with me now, we’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with,
and I wish that you could be the one I die with,
and I pray in you’re the one I build my home with...
I hope I love you all my life...
(Daniel Beddingfield - If You're Not The One)
Diposting oleh Fairuz di 05.50 0 komentar
-
Diposting oleh Fairuz di 08.54 0 komentar
#12, Mantan
Diposting oleh Fairuz di 04.53 0 komentar
Ini niiiiih...
Cepet pulang lagi ya, Aymen.
Diposting oleh Fairuz di 09.01 0 komentar
#2, Malam Minggu
Sampai Sabtu berubah menjadi Minggu hanya dalam sekejap waktu.
Jangan tanya aku bagaimana waktu melintas begitu cepat ketika perasaan bertumbuh dengan pesat.
Diposting oleh Fairuz di 04.57 0 komentar
The Matter of Distance.
jika yang aku inginkan hanya tetap mengenal kebersamaan kita untuk seterusnya?
Dan jarak itu sebenarnya sederhana.
Diposting oleh Fairuz di 09.14 0 komentar
From @landakgaul's Tumblr
Ah, apakah ini sebuah ketergantungan? Kamu selalu membuatku khawatir. Khawatir jika kamu pergi, senyumku ini akan bergantung pada senyum siapa lagi?
Sadarkah kamu pengaruhmu begitu besar buatku? Ketika aku kecewa, sedih, bahkan marah, satu simpul senyummu bisa mengembangkan senyumku yang terkubur dalam tanah hati yang gelap.
Sayang, mudah sekali bagimu melengkungkan garis bibirku ke atas atau ke bawah. Kamu tinggal pilih. Jadi aku mohon, tetaplah tersenyum, untukku, bersamaku.
Walaupun hanya sebuah titik dua dan sebuah kurung tutup :)"
You've been everything to me, IMR.
Diposting oleh Fairuz di 05.19 0 komentar







