Tampilkan postingan dengan label mellow. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mellow. Tampilkan semua postingan

Saya Lupa

Kamis, 12 Juli 2012 Label: ,

Saya sudah sepenuhnya melupakan kamu.

Melupakan wajahmu, bentuk matamu, caramu menatap, caramu berbicara, suaramu yang tidak terdengar berat, kumis tipismu, dan gaya rambutmu yang begitu-begitu saja.

Saya sudah sepenuhnya melupakan kamu.

Melupakan kebiasaan-kebiasaan kecilmu, makanan favoritmu, minuman favoritmu, cara makanmu yang lambat, caramu menyeduh kopi dengan mengaduknya searah jarum jam, caramu meminum kopi ataupun teh secepat mungkin sebelum mendingin.

Saya sudah sepenuhnya melupakan kamu.

Melupakan hal-hal yang kamu lakukan ketika sedang merasa kesal, hal yang kamu lakukan ketika sedang senang, kamu yang sangat senang berbicara, dan kamu yang terkadang lebih mengurusi orang lain daripada dirimu sendiri. 

Saya sudah sepenuhnya melupakan kamu.

Melupakan genre film yang kamu suka, dan kamu yang lebih suka tidak banyak berbicara ketika sedang menonton di bioskop, tapi terkadang malah berbicara lebih banyak dariku karena menurutmu berbicara denganku menyenangkan.

Saya sudah sepenuhnya melupakan kamu.

Melupakan musik yang kamu dengarkan, dan selera musikmu yang tidak jauh berbeda dariku. Hanya saja kamu lebih bisa menerima musik yang menurutku terlalu cepat, terlalu lambat, terlalu berisik, atau terlalu menye-menye.

Saya sudah sepenuhnya melupakan kamu.

Saya sudah sepenuhnya (lupa bahwa saya sudah) melupakan kamu.

Semoga Tidak Kamu Lagi by Zarry

Rabu, 13 Juni 2012 Label: , ,

: Zarry Hendrik  


"Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia. Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk, supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan, sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.

Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu, ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku. Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, itu karena aku mampu terima kamu apa adanya. Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi. Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas. Amin."

Aku (hampir) pergi.

Sabtu, 07 April 2012 Label:

March 5th, 2012...
"Lucu ya, bagaimana semuanya terjadi begitu cepat dan tiba-tiba.
Hampir kupikir engkau rumahku. 
Hampir kupikir akhirnya aku telah menemukan tempat ternyaman, tempat aku pulang, tempat aku merasa aman, dan kembali ke semua tenang.

Sampai pada akhirnya aku tahu aku hanya sekedar tempat singgah untuk kamu.
Aku hanya salah satu dari beberapa perempuan yang bisa menenangkan kamu,
ketika untuk aku, kamu adalah satu-satunya.

Aku hanya salah satu dari beberapa.
Ketika untuk aku, kamu adalah satu-satunya.

Aku benar-benar merasa bodoh.
Tadinya aku pikir aku bukan seseorang yang begitu baik untuk kamu, 
aku yang labil, moody, emosional, dan lainnya.
Dan aku sempat berpikir,
aku terlalu buruk untuk macam-macam, sehingga jika melakukan apapun pasti ketahuan, hingga aku tak pernah mau sebegitu teganya menyembunyikan apapun.

Sedangkan kamu terlalu baik, sampai tidak aku sangka...

Sebenarnya aku benci mereka.
Aku benci mereka yang sebenarnya tahu tapi pura-pura tidak tahu,
sampai ketika aku bercerita, barulah mereka berkata, "Memang dia begitu."

Aku tidak tahu.
Hampir semuanya terasa percuma, dan palsu.
Betapa bintangku yang seharusnya membuat aku tidak pernah tersesat,
justru berbalik menyesatkan aku,
membuat aku jatuh ke jurang yang dalam,
menabraki bebatuan,
sampai akhirnya terjerembab di dalamnya.

Aku tak hanya kehilangan arah,
aku bahkan kehilangan diriku sendiri.
Itulah mengapa aku sempat lari dan bersembunyi, mencari setidaknya sedikit sinar yang bisa membawa aku pulang.
Aku hampir pergi,
karena aku tidak memiliki rumah untuk pulang."

Sedikitnya

Minggu, 08 Januari 2012 Label:

Mungkin sedikitnya ada sesuatu yang berubah,
ketika kita jadi sama-sama sering menghela nafas panjang.

Kupikir kita bukan lagi kita ketika sedang bertengkar.
Selalu,
setiap kita bertemu dengan masalah pelik,
kita selalu lupa kita pernah sehangat peluk.

Ada sesuatu yang mengalir dari kedua pelupuk mataku malam ini.
Tentu saja karena kamu, tapi bukan karena salahmu.
Salahku, selalu. Katamu.
Tapi yang kuingat sejak pertama aku menggandeng tanganmu adalah,
kita seharusnya saling.
Jika ada yang harus dirubah, kita berdualah yang berubah.
Yang kuingat tentang kita adalah,
kita seharusnya saling terbuka. Jika kamu, atau aku, salah, atau marah, tidak seharusnya ada yang dipendam.

"Kita pacaran terbuka kan, Sayang? Kalau marah, ya marah. Kalau bete ya bete, gak ada yang ditutupin ya?"

Ah, kalimatmu yang mana yang tidak aku ingat?
Dan tentu saja ketika aku tidak lagi tahu aku sedang menghadapi kamu yang bagaimana,
aku seperti dihimpit dua pertanyaan.
Apakah ini aku yang gagal memahami kamu, atau aku salah dengar waktu itu?

Terkadang aku hanya masih terlalu manja,
sehingga kadang aku dibuat bingung dengan caramu mencintai.
Aku masih terlalu peka untuk  menerima nada bicaramu yang sedikit tidak biasa, atau meningkat satu nada.
Aku hanya masih terlalu ketakutan menerima sikap dinginmu yang bukan berarti tidak sayang.

Aku hanya pengecut yang selalu ketakutan untuk membayangkan kamu pergi.

Farewell.

Rabu, 21 Desember 2011 Label: , ,

"I break up."

Satu kalimat di layar BlackBerry-ku, pukul dua puluh tiga kurang lima belas menit.
Yang sukses membuatku shock.

Sebenarnya, ini-shock-karena-apa, aku tidak begitu paham.
Adalah chat dari seorang teman, yang mengatakan kalau dia dan Pacarnya baru saja berpisah.

Seharusnya reaksiku tidak seperti ini jika saja 1 minggu sebelum hari ini,
kita tidak membicarakan tentang betapa tidak maunya kita merasakan kehilangan(lagi).

Baru saja sekitar 1 minggu yang lalu,
kita terduduk di sebuah kedai, 3 jam membicarakan tentang perpisahan, kehilangan.
Dan betapa tidak inginnya kita kehilangan apa yang sedang masing-masing kita genggam saat ini.
Juga harapan-harapan muluk tentang masa depan.
Tapi ternyata, apa yang ditakutkan justru terjadi. Hari ini, detik ini.

"No. That's just... impossible."
"Oh yeah, it's over."


Satu, dua, tiga...
Perpisahan demi perpisahan terjadi.
Dari hubungan yang sudah terjalin selama 2 tahun lamanya, sampai pasangan yang baru saja memulai hubungan mereka.
Ah, entahlah...
rasanya menyesakkan.
Melihat kenyataan bahwa perpisahan itu ada, nyata, mungkin terjadi.
Bisa datang begitu saja tanpa aba-aba satu dua tiga,
tak ubahnya jatuh cinta.

Perpisahan itu nyata, senyata jatuh cinta.
Dapat terjadi begitu saja, secara tiba-tiba, seperti pertemuan.
Kita tidak akan pernah tahu ketika cinta mengendap-endap di belakang,
dan tiba-tiba menyergap hingga akhirnya kita jatuh.
Pun perpisahan,
bisa saja tiba-tiba dia datang dan menyerbu.

Tetapi senyata apapun perpisahan,
entah mengapa aku ingin ia tetap berada dalam imaji jika itu tentang kamu.
Senyata wujud perpisahan,
senyata itu pula engganku kehilangan.

Jika kita adalah 2 buah garis,
kuharap pada akhirnya kita berada di satu titik temu.
Bukan berpotongan, tak juga hanya bersinggungan, atau malah tak sejalan.

Jika ini adalah perjalanan,
semoga aku sedang menuju kamu selalu.

Rindu

Selasa, 13 Desember 2011 Label: ,

Rinduku seakan mau tumpah di mendung malam ini
Hanya bisa menggantung pasrah di langit bentang jarak dan waktu

Aku seperti rindu yang terpaksa bersembunyi di balik senyum
sebelum akhirnya benar-benar menangis.
Aku seperti rindu yang berdesakkan di dada,
seolah seluruh hela nafasku terhimpit sebuah nama.

Rinduku enggan menyapa matahari pagi,
hanya ingin melihatnya tenggelam dan menyilam senja.
Sekedar ingin tiba-tiba berhasil melewati satu hari lagi tanpa kamu dengan cepat.

Rinduku terpaksa menyambut sapaan fajar.
Dia merangkak dari bawah kasur,
menarik-narik ujung lenganku paksa.
Memintaku melewati satu hari lagi tanpa kamu, 
juga entah berapa hari lagi yang tersisa.

Pagi ini,
aku berpapasan dengan rindu yang terusik dengan dinginnya hujan.
Persis seperti tadi malam,
hanya menjelma menjadi mendung yang tak gelap.

Kerikil-kerikil Kecil (yang Membuat Kakiku Berdarah)

Senin, 28 November 2011 Label: , , ,

Sore ini aku kedapatan diriku tercenung menatap layar ponsel. Sebenarnya kalimatmu mesra, tapi kosong.

Kamu tidak pernah seperti ini.
Aku mengenalmu lebih dari hitungan hari, dan meskipun terlihat mesra,
aku tahu ada sesuatu yang salah.

Karena aku mengenalmu lebih dari hitungan hari.
"Ada apa?"
Tanyaku. Tidak ada yang salah, katamu.
Tapi aku tahu, pasti ada yang salah.

Malam ini aku menelan kata-kataku sendiri,
malam ini aku menenggak racun yang kusebar sendiri.
"Sejak kapan cinta berubah dari peluk erat jadi perang urat?" 
Itu kataku, dulu. Melihat dua orang yang saling menyayangi tiba-tiba berubah saling memaki benci.

Aku tercenung mendengar suaramu di ujung sana, 
sebenarnya tidak harus ada tangis. Ini hanyalah kerikil kecil.
Bahkan aku memiliki tangan-tangan Tuhan, malaikat-malaikat tak bersayap yang bersedia bertanya, "Ada apa?"
Tapi aku tidak tahu,
kerikil-kerikil kecil ini membuat kakiku berdarah,
aku hanya ingin meraung sekeras mungkin.

Benarkah aku sedang berbicara dengan kamu yang selalu membuatku aman di genggaman tanganmu?
Benarkah ini kamu yang pernah memberiku peluk erat, membuatku seolah pulang ke rumah paling nyaman di muka bumi ini?
Benarkah ini kamu yang selalu tersenyum teduh menghilangkan gundah... seberat apapun itu?
Benarkah ini kamu yang selalu menguatkan aku?
Benarkah ini kamu?

Mungkin karena rindu yang terlalu, aku lupa, bukan cuma aku yang merasa pilu.
Aku lupa kamu pun mempunyai keluh.
Ya, Sayang, aku minta maaf.

Mungkin karena rindu yang berdesakkan di tenggorokanku. Dan bergulir ke mataku mengalir menjadi air.
Aku tercekat dan tersesak. Raung tangis ini karena kamu, tapi bukan karena salahmu.
Ya, Sayang, aku minta maaf.

Mungkin kali ini rindu seperti menjelma menjadi sesuatu yang lain.
Karena aku kini merindu seperti tidak pernah serindu ini sebelumnya.

Mungkin rinduku kali ini menjelma menjadi sebesar matahari.
Menggumpal menyesakkan di dalam dada, terkadang terasa hangat, tapi kali ini terasa panas menyakitkan.
Mungkin rinduku kali ini menjadi gemericik hujan.
Datang begitu saja menyerbu teras rumahku, tanpa mengetuk pintu.
Tanpa aba-aba tiga dua satu.
Terkadang membuatku nyaman dan tenang,
terkadang rindu ini juga membuatku menggigil kedinginan.

Mungkin rinduku kali ini menjelma jadi kerikil-kerikil kecil,
yang membuat kita lupa bahwa kita pernah saling memeluk erat seperti enggan kehilangan.

Ah, Sayang.
Jika kita meninggalkan ego saat berpelukan,
mengapa kita tidak mencoba meninggalkan ego juga disaat kita ber-pelik-an?

Mungkin masalah ini pelik, tapi kamu seharusnya pernah sehangat peluk.
Ya, Sayang, aku minta maaf.

Aku tidak ingin menyerah pada rindu, dan membiarkan waktu menertawakanku. 
Tidak juga pada jarak, dan membiarkan waktu terbahak-bahak.
Biarkan mereka tetap melihat kita saling bergandengan tangan,
erat, tapi tidak mencengkram.
Ringan, tapi tidak mungkin terlepas :)

Doubtful...

Senin, 24 Oktober 2011 Label: , , ,

Kadang aku menatapmu dalam-dalam, dan kuselidiki kamu diam-diam. 
Aku mengamatimu baik-baik, karena aku tak sekedar melirik.

Kupikir aku hanya ingin sejenak terjun, ke dalam gelapnya palung-palung.
Mencoba menebas ragu yang menggantung.
Kupikir aku hanya ingin tahu, seberapa banyak tentangku terukir? 
Atau hanya sebatas tergambar dengan baik di bibir?

Seharusnya cinta itu tidak pernah begini rumit.
Tapi aku begitu menginginkanmu sehingga batas antara rasa percaya dan enggan kehilangan itu menyempit.
Karena bagimu tidak pernah sulit,
membuatku bahagia hingga nafasku terhimpit.

Tidakkah ini menyebalkan?
Aku ingin menjagamu dengan tidak berlebihan.
Aku ingin membatasi pikiran dan kepekaan,
dengan tidak menjadikan aku buta oleh kepercayaan.

Hanya saja ada banyak waktu ketika aku menatapmu dengan penuh ragu.
Meskipun pada akhirnya tatapmu yang sayu,
membuat kataku menjadi semu. Membuat lidahku menjadi kelu.
Membuat raguku membisu. Membuat ragaku membatu.
Risauku membeku.
Galauku terhalau.

Ada banyak hal di kepalaku,
pertanyaan yang menjelma menjadi lagu.
Bukan hanya apa kamu begini dan begitu, meskipun semuanya memang tentang ragu.
Apakah aku yang terlalu lugu,
atau matamu terlampau hebat dalam menghilangkan segala risau dan ragu?

Ada banyak waktu ketika aku menatapmu dengan penuh ragu,
dan aku hanya tidak mau lagi meracau sendu.

---

Jika pada akhirnya kamu (atau malah aku) harus berhadapan dengan penyesalan, seperti kesalahan kemarin yang membawa kita ke awal. 
Jika pada akhirnya terjadi, satu kali lagi.
Mungkin aku akan bertemu hari yang demi Tuhan, tidak aku inginkan, aku sebenarnya tidak pernah ingin mendapati diriku telah membencimu.

Kamu, ataupun aku, bisa saja meminta maaf seribu kali.
Aku pun mengutarakannya padamu, bahwa, untuk kesalahan semacam ini, aku siap kautinggalkan. Tapi demi Tuhan, aku tak akan pernah siap untuk menjadi seseorang yang harus berbalik membenci kamu. 

Aku yakin, aku telah jatuh pada cinta yang baik, maka aku ingin jatuh selamanya.
Jaga ya.

F.

"...I'll be saving all my love for you."

Senin, 12 September 2011 Label: , , ,

*tulisan ini masuk halaman utama 'Ngerumpi' tanggal 5 September 2011 :3*


"Baik-baik ya disini."
 Ucapmu. Dan kamu mengecup keningku sesaat sesudahnya.

Aku menatapmu dengan tatapan seolah minta dikasihani. Dan kamu tersenyum, seolah mengerti bahwa aku benar-benar tidak ingin kamu pergi, tidak menit ini, tidak detik ini.

"Aku pasti pulang. Setidaknya... ya sebulan sekali." Kamu mengacak-acak rambutku, kemudian tertawa pelan. "Udah dong jangan manyun gitu. Jelek tau."

Aku makin mempertahankan ekspresi kesalku, "Nyebelin..."

"Eh, ntar kangen loh sama nyebelin-nyebelinnya aku..." Katamu, lugu. Sambil sejurus kemudian, tersenyum lucu khas kamu.

"Kamu sekarang pulang aja aku bakal udah langsung kangen..." Lagi, aku memasang tampang memelas. Benar-benar meminta kamu untuk tidak pergi, tidak menit ini, tidak detik ini.

Tiba-tiba kamu menatapku. Air mukamu serius, tidak khas kamu, dan membuatku tertawa, kali ini. "Ih serius banget mukanya..." Aku tersenyum setelah sukses mengontrol tawaku.

Raut wajahmu tidak berubah, kamu bahkan tidak lagi ikut tersenyum sedikitpun, kendati aku menertawakanmu. Membuatku langsung mengerti, kamu benar-benar serius kali ini.

"Emang serius. Dengerin sini."
Kamu menatap mataku, memaku sosokku di dalam sana. Hal yang selalu kamu lakukan jika aku meragu, dan menuntut untuk diyakinkan.

Melihat mata seseorang saat berbicara membuat kita yakin dengan apa yang sedang dibicarakan. Karena mata tidak akan pernah berbohong. Katamu. Dan aku pun meyakini itu.

Binar matamu yang amat-sangat-kusukai itu membuatku menerka-nerka apa yang akan kamu ucapkan. Aku balas menatap matamu dengan tatapan 'kamu-mau-bilang-apa-?'

"Kamu, tolong, jaga diri baik-baiklah disini."
Pesanmu. Lalu kamu tersenyum, "Aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi." Kamu menyodorkan tanganmu, dan aku menciumnya, begitu pun kamu balas mencium tanganku. Ya, kebiasaan kecil kita.

"Hati-hati di jalan. Kalau udah nyampe, kabarin aku ya." Aku berusaha keras untuk menahan sesak yang berdesakan di tenggorokanku.

"I love you." Ucapmu, pelan. Seolah tanpa suara. Tapi aku, selalu mampu mendengarnya. Dan aku mengangguk mengiyakan. Aku pun, amat-sangat-mencintai kamu.

Mungkin seperti yang salah seorang temanku pernah bilang, hubungan jarak jauh itu seperti mengencangkan sebuah tali, semakin jauh ditarik, ikatannya semakin kencang.

Maka biarkanlah kita berjauhan, biarkan kita lebih menghargai waktu, biarkan kita mengadu pada rindu, biarkan kita bertoleransi dengan waktu.

Ingatlah Sayang, kita selalu satu hari lebih dekat dengan waktu kita akan bertemu lagi.



"...promise me, you'll wait for me.
And I'll be saving all my love for you..."

Kalau Ada yang Kusesalkan

Senin, 13 September 2010 Label: , ,

Kalau ada yang kusesalkan jika aku meninggalkanmu,
mungkin itu "persahabatan" kita.
Kamu ingat kan bagaimana awalnya kita berdua adalah 2 orang asing yang tidak saling mengenal selama bertahun-tahun, padahal kita ada di lingkungan yang sama?
Kamu ingat kan bagaimana awalnya kita cuma saling tahu nama, tapi sama sekali tidak pernah menyapa?
Kamu ingat bagaimana di 6 bulan terakhir ini kita berbagi semuanya?
Kamu ingin tahu bagaimana aku bisa mengatakan kamu "sahabat" untukku?
Kamu bukan hanya seorang yang aku sebut "pacar", tapi kamu telah menjadi sahabat untukku, partnerku, teman tertawa tanpa ada rasa canggung lagi. Sama sekali tidak.
Kamu tahu bagaimana cara menghiburku,
kamu tahu bagaimana cara membuatku tertawa.
Kamu dan kekonyolanmu. Kekonyolan kita.

Kalau ada yang harus kusesalkan jika pada akhirnya aku benar-benar harus meninggalkan kamu,
mungkin itu tawa lepas kita.
Atau mungkin itu cara kita berbicara.
Atau mungkin juga cara kita bertingkah konyol berdua.
Atau mungkin cara kita bertengkar yang tidak pernah lebih dari 24 jam.

Kalu memang pada akhirnya aku harus benar-benar meninggalkan kamu,
tidakkah kamu akan tetap jadi sahabat laki-laki terbaikku?
Atau pada akhirnya, membenciku?

Kalau ada yang harus kusesalkan, D.