-

Rabu, 21 September 2011 Label:

malam di matamu,
kulihat
ada binar, bintang bukan?
puisi di bibirmu,
kubaca
ada desir, cinta bukan?
debar di jantungmu,
kudengar
ada detak, aku bukan?

...11:23 PM 
September 21, 2011

The Matter of Distance.

Label: , ,

Mengapa aku harus mengenal jarak,
jika yang aku inginkan hanya tetap mengenal kebersamaan kita untuk seterusnya?

Jarak itu hanya sejumlah angka. 
Cuma hal sepele, sesepele kemarahanku yang selalu dengan mudahnya surut,
begitu dihadapkan dengan berbagai perubahan raut mukamu yg lucu.
Jarak itu sebuah permainan.
Ia mengajak kita untuk berteman dengan waktu,
mengadu diri pada rindu,
dan meminta kita untuk melawan sendu.
Dan jarak itu sebenarnya sederhana.
Sesederhana genggaman tanganmu yang kulepas dengan enggan,
setiap kamu mengatakan bahwa kamu harus pulang, kendati tak ingin.

Terkadang jarak berubah menjadi sesuatu yang lucu,
yang mampu mengubah sosok yang selalu tidak membosankan untuk aku tatap, tiba-tiba menjadi gambar yang bergerak patah-patah tidak karuan.
Juga jarak lah yang mampu mengubah suaranya yang khas dan menenangkan, suara tawa konyolnya yang tak urung membuatku ikut tertawa, tiba-tiba menjadi suara robot yang terputus-putus ditambah dengan krasak-krusuk berbagai gaung dari mic dan speaker computer.
Dan betapa rambut dan wajah yang selalu menjadi hal favorit untuk aku elus, tiba-tiba berubah menjadi layar gepeng laptop dan terasa dingin saat disentuh.

Sebenarnya aku tidak asing dengan hal ini. Dulu, sekitarku banyak yang berhadapan dengan jarak. 
Banyak yang menyerah kalah, dan memilih untuk menghentikan langkah. Banyak yang memilih takut mencoba, dan banyak juga yang sudah mencoba, tapi gagal. 

Bukan hal aneh lagi waktu aku sadar kalau terkadang jarak mengapresiasi curiga dan mendepresiasi sayang. Tidak gampang kan buat percaya pada tulisan di layar handphone yang gak jelas gimana nada bicara dan ekspresinya? 

Tapi satu hal.
Jarak tidak pernah memberikan aku alasan untuk mengatakan, "Selamat tinggal." setiap kamu pergi.
Adalah, "Sampai bertemu lagi." yang menjadi penopang. Karena kamu, pasti pulang.


I know we can make this work for us. It's just a matter of time!
Dan jika ternyata sampai hari-hari kemudian aku masih menunggu, itu karena kamu memang pantas ditunggu :)

From @landakgaul's Tumblr

Label: , ,

Ini bukan tulisan aku, tapi aku copy-paste sini aja ya karena pengen si Pacar baca hehehe. Ini sumbernya dari Tumblr @landakgaul, beberapa orang yang follow dia pasti tau ya :D Oke deh Pacar, baca ya! Aku baca ini dan reflek senyum ngebayangin si Pacar, see you soon... :)


"Seseorang yang istimewa bisa menjungkirbalikkan mood-mu dalam sekejap. Dia bisa membuatmu yang sedang dalam suasana hati sumringah menjadi diam dan menekuk muka dalam satu kedipan saja. Sederhananya, ketika dia tersenyum aku semakin tersenyum. Namun ketika dia cemberut, apapun suasana hatiku, spontan wajahku ini menjadi kusut.


Ah, apakah ini sebuah ketergantungan? Kamu selalu membuatku khawatir. Khawatir jika kamu pergi, senyumku ini akan bergantung pada senyum siapa lagi?


Sadarkah kamu pengaruhmu begitu besar buatku? Ketika aku kecewa, sedih, bahkan marah, satu simpul senyummu bisa mengembangkan senyumku yang terkubur dalam tanah hati yang gelap.


Sayang, mudah sekali bagimu melengkungkan garis bibirku ke atas atau ke bawah. Kamu tinggal pilih. Jadi aku mohon, tetaplah tersenyum, untukku, bersamaku.


Walaupun hanya sebuah titik dua dan sebuah kurung tutup :)"






You've been everything to me, IMR.

"...I'll be saving all my love for you."

Senin, 12 September 2011 Label: , , ,

*tulisan ini masuk halaman utama 'Ngerumpi' tanggal 5 September 2011 :3*


"Baik-baik ya disini."
 Ucapmu. Dan kamu mengecup keningku sesaat sesudahnya.

Aku menatapmu dengan tatapan seolah minta dikasihani. Dan kamu tersenyum, seolah mengerti bahwa aku benar-benar tidak ingin kamu pergi, tidak menit ini, tidak detik ini.

"Aku pasti pulang. Setidaknya... ya sebulan sekali." Kamu mengacak-acak rambutku, kemudian tertawa pelan. "Udah dong jangan manyun gitu. Jelek tau."

Aku makin mempertahankan ekspresi kesalku, "Nyebelin..."

"Eh, ntar kangen loh sama nyebelin-nyebelinnya aku..." Katamu, lugu. Sambil sejurus kemudian, tersenyum lucu khas kamu.

"Kamu sekarang pulang aja aku bakal udah langsung kangen..." Lagi, aku memasang tampang memelas. Benar-benar meminta kamu untuk tidak pergi, tidak menit ini, tidak detik ini.

Tiba-tiba kamu menatapku. Air mukamu serius, tidak khas kamu, dan membuatku tertawa, kali ini. "Ih serius banget mukanya..." Aku tersenyum setelah sukses mengontrol tawaku.

Raut wajahmu tidak berubah, kamu bahkan tidak lagi ikut tersenyum sedikitpun, kendati aku menertawakanmu. Membuatku langsung mengerti, kamu benar-benar serius kali ini.

"Emang serius. Dengerin sini."
Kamu menatap mataku, memaku sosokku di dalam sana. Hal yang selalu kamu lakukan jika aku meragu, dan menuntut untuk diyakinkan.

Melihat mata seseorang saat berbicara membuat kita yakin dengan apa yang sedang dibicarakan. Karena mata tidak akan pernah berbohong. Katamu. Dan aku pun meyakini itu.

Binar matamu yang amat-sangat-kusukai itu membuatku menerka-nerka apa yang akan kamu ucapkan. Aku balas menatap matamu dengan tatapan 'kamu-mau-bilang-apa-?'

"Kamu, tolong, jaga diri baik-baiklah disini."
Pesanmu. Lalu kamu tersenyum, "Aku pergi dulu ya. Sampai ketemu lagi." Kamu menyodorkan tanganmu, dan aku menciumnya, begitu pun kamu balas mencium tanganku. Ya, kebiasaan kecil kita.

"Hati-hati di jalan. Kalau udah nyampe, kabarin aku ya." Aku berusaha keras untuk menahan sesak yang berdesakan di tenggorokanku.

"I love you." Ucapmu, pelan. Seolah tanpa suara. Tapi aku, selalu mampu mendengarnya. Dan aku mengangguk mengiyakan. Aku pun, amat-sangat-mencintai kamu.

Mungkin seperti yang salah seorang temanku pernah bilang, hubungan jarak jauh itu seperti mengencangkan sebuah tali, semakin jauh ditarik, ikatannya semakin kencang.

Maka biarkanlah kita berjauhan, biarkan kita lebih menghargai waktu, biarkan kita mengadu pada rindu, biarkan kita bertoleransi dengan waktu.

Ingatlah Sayang, kita selalu satu hari lebih dekat dengan waktu kita akan bertemu lagi.



"...promise me, you'll wait for me.
And I'll be saving all my love for you..."